Sulut Satukan Tenis Meja Indonesia, Putusan BAORI Dikabulkan Taher Harus Mundur

160

JAKARTA – wartaekspres.com- Putusan BAORI adalah putusan tetap utusan tingkat pertama dan yang terakhir, serta membuktikan kredibiltas BAORI yang teruji. Demikian dikatan Billy R. Kaloh

Menurut Billy, dengan putusan membatalkan SK PB PTMSI dengan Ketua Umum Bapak Taher masa bakti 2018-2022 dan menyatakan Munaslub yang dilaksanakan adalah cacat hukum, membuktikan bahwa memang benar proses Munas tersebut ada kesalahan prosedur, baik tata cara pelaksanaan maupun mekanisme atauran.

“Oleh karena itu, misi dan visi penyatuan tidak tercipta. Dalam hal ini tujuan penyatuan dari Bapak Taher tidak terlaksana. Sebab itu, demi organisasi non Taher sebagai ketua umum terpilih pada Munaslub tersebut, seharusnya mengerti bahwa beliau telah gagal menjalankan misi dan visinya. Dengan kata lain harus menerima keputusan BAORI dan harus mundur. Itu kalau memang benar-benar mencintai tenis meja,” terang Billy.

Lanjut Billy, bukankah sangat jelas, bahwa Bapak Taher mengatakan dalam pidato Munaslub tanggal 27-28 Maret 2018, bahwa kalau tidak ada penyatuan saya mundur. Itukan kalimat Ketua Umum terpilih Bapak Taher.

“Perlu diketahui, BAORI itu produk ciptaan KONI dan aturan dalam BAORI jelas mengikat. Dan dalam setiap permasalahan atau sengketa olahraga harus diselesaikan pada BAORI. Koni sendiri mengakui dan dalam setiap putusan BAORI selalu ditindaklanjuti oleh KONI, baik masalah sepakbola, masalah kepengurusan sesama pengurus KONI dan masalah tenis meja sendiri yang pernah ditindaklanjuti KONI menyangkut keputusan BAORI pada beberapa tahun lalu,” tegasnya.

Mungkinkah kali ini KONI akan bertindak lain. Tapi menurut kami itu sangat tidak mungkin, sebab KONI adalah induk olahraga yang selalu mengedepankan asas sportifitas, sambungnya.

“Gugatan kami tidak pernah mempermasahkan pimpinan, kami hanya mempermasahkan bentuk pelaksanaan yang bagi kami ada kesalahan teknis. Kami ingin yang terbaik. Sportifitas dan tunduk pada aturan yang utama, sebab ini menyangkut kesejahteraan atlit tenis meja seluruh Indonesia,” tutu Billy.

Lebih lanjut dijelaskan Billy R Kaloh, bahwa pihaknya berjuang demi tenis meja dan demi kebersamaan penyatuan serta kesatuan sangat dinantikan. “Dasar gugatan kami jelas mempunyai fakta dan pembuktian. Tidak ada bentuk lain, kami gugat berdasarkan kebenaran bukan pembenaran,” ujarnya.

“Kami berharap pihak KONI pusat bisa menindaklanjuti putusan yang sudah ditetapkan. Sebab kalau tidak segera ditindaklanjuti atas putusan BAORI. Tenis meja Indonesia diperkirakan akan bertambah runyam,” harap Billy.

Menurut Billy, duaslisme sangat sudah sangat susah disatukan apalagi tigalisme, indikasi tigalisme kepengurusan akan terjadi, satunya kubu Bapak Taher yang terindikasi tidak mau mengakui putusan BAORI lewat komen dan statement pada grup yang ada di salah satu medsos. Kedua, kubu yang berpegang pada putusan BAORI dan yang ketiga kubu PP PTMSI Bapak Oegroseno.

“Dalam situasi ini kami mengharapkan pimpinan KONI pusat agar dapat mengambil langkah yang cepat dalam menindaklanjuti atas putusan BAORI. Dan pengurus PB hasil Munaslub tanggal 27- 28 Maret 2018,” imbuhnya.

Baiknya berpikir secara arif dan bijaksana, harus legowo dan menerima serta menjalankan putusan BAORI. SK Kepengurusan Bapak Taher sudah digugurkan. Walaupun KONI tidak melakukan pencabutan SK itu tidak ada masalah, karena keputusannya BAORI dalam pelaksanaan Munaslub adalah cacat hukum, otomatis SK kepengurusan juga cacat hukum. “Jadi tidak perlu ada pencabutan, buat apa dicabut lagi, sudah jelas, tidak ada yang perlu dipermasahlakan,” jelasnya.

“Marilah kita bergandeng tangan secara bersama dan bersatu membangun tenis meja. Kalau tidak, ini akan berdampak buruk pada organisasi dan olahraga yang kita cintai, dengan begitu tujuan penyelesaian dualisme kepengurusan sesuai Surat Menpora dengan dasar kesepakatan bersama antara PB PTMSI, PP PTMSI, KONI Pusa dan KOI bisa terlaksana,” ujar Billy R Kaloh. (Sunita)

banner-we_728x90.jpg