Siapa Yang Diuntungkan Dalam Penetapan Dapil dan Pemilih Di Waisai dan Misool

78

RAJA AMPAT – wartaekspres.com – Misool yang memiliki jumlah pemilih lebih banyak dibandingkan Kota Waisai ternyata memiliki jumlah kuota kursi lebih sedikit dibandingkan Kota Waisai dalam pembagian daerah pemilihan di Kabupaten Raja Ampat menyongsong Pileg dan Pilpres 2019. Ada apa ?

Memulai tahapan Pemilu Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019, April 2018, KPUD Raja Ampat telah menetapkan pembagian daerah pemilihan (Dapil) di Raja Ampat yang sebelumnya hanya 3 Dapil, kini menjadi 5 Dapil. Dimana Dapil 3 Waigeo yang tadinya memiiki kuota 12 kursi DPRD, dibagi menjadi 2 bagian.

Namun, Kota Waisai dianggap layak menjadi sebuah Dapil tersendiri karena memiliki jumlah penduduk sebanyak 18.658, maka Kota Waisai menjadi Dapil tersendiri dengan kuota 6 kursi DPRD. Mayoritas partai politik menolak adanya 5 Dapil dan hanya menghendaki 4 Dapil, namun KPU telah memutuskan lain.

“Penduduk Waisai yang diperkirakan 18.658 orang, ternyata berbeda dengan data BPS, dimana penduduk Waisai pada tahun 2016 adalah 8.242 orang, terjadi kenaikan jumlah penduduk Waisai dalam setahun sebesar 10.416 orang. Sementara data Dukcapil terdapat 7.000 orang penduduk siluman,” jelas Plt.Kadis Dukcapil Orpa Syaranamual di KPUD.

Berbeda dengan data penduduk, pada Pleno Penetapan DPS, 18 Juni 2018, terdapat jumlah pemilih di Kota Waisai adalah 9.281 pemilih, dimana DPS sebanyak 8.538 pemilih dan pemilih potensial non KTP elektronik sebesar 1.238 pemilih. Sebaliknya, DPS Dapil 1 Misool, Kofiau dan Kep. Sembilan adalah 19.664 pemilih, dimana DPS sebesar 12.732 pemilih dan potensial KTP elektronik sebesar 6.932 pemilih.

Anehnya, Dapil 1 Misool dan sekitarnya yang pemilihnya berjumlah 12.732 harus berebut 5 kursi, sementara Kota Waisai yang hanya berjumlah 8.538 pemilih, dengan tenangnya memperoleh kuota 6 kursi di DPRD Raja Ampat. Benar-benar suatu kondisi yang sangat controversial. Belum lagi ditambah pemilih non KTP di Dapil 5 sebesar 6.932 dan Dapil 1 sebesar 1.238 pemilih.

Diduga ada yang tidak beres dengan penetapan Dapil terkait jumlah penduduk, jumlah pemilih dan jumlah kursi di Dapil 1 Kota Waisai dan Dapil 5 Misool. Seharusnya, Dapil 1 dengan jumlah penduduk 12.732 atau 19.664 memiliki 6 kursi, sebaliknya Kota Waisai dengan jumlah pemilih 8.538 orang harusnya hanya 5 kursi. Faktor Human Eror ataukah sebuah kesengajaan ?

Kenaikan jumlah pemilih sebanyak 10.416  dan adanya jumlah pemilih siluman sebanyak 7.000 orang di Kota Waisai yang dikatakan Orpa Syaranamual juga menjadi pertanyaan besar partai peserta Pemilu.

Sementara jumlah pemilih potensial non KTP elektronik di Dapil 1 mencapai 6.932 yang hampir setara dengan jumlah pemilih di Dapil lain yg hanya 3 kursi, dimana jumlah pemilih non KTP elektronik paling banyak berada di Distrik Misool Timur sebesar 2480 pemilih dan Misool Selatan sebesar 1.051.

Dari penelusuran wartaekspres.com, setiap Pileg dan Pilkada di Raja Ampat sejak tahun 2014, terjadi kecurangan-kecurangan dalam penetapan pemilih dengan munculnya pemilih siluman dan mobilisasi pemilih dari luar Raja Ampat. Sementara partai politik penguasa dan koalisinya sudah mengklaim akan menang  5 dan 11 kursi pada Pileg 2019.

Adolfinus Watem, tokoh pemuda asal Kofiau mencurigai adanya permainan dari pemerintah dan KPUD Raja Ampat. ”Ini permainan pemerintah dan KPU,” kata Adolf.

Adolf bersama teman-teman dari Kofiau sedang melakukan presure di KPU Provinsi agar tidak terjadi kecurangan dalam penetapan DPT terkait pemilih siluman. (Jacho)

banner-we_728x90.jpg