Rekonstruksi Proses Pembuatan Minuman Atas Tersangka SS dan JS

108

JAKARTA – wartaekspres.com – Polres Bandung menggelar rekonstruksi proses pembuatan minuman atas kasus miras oplosan yang dihadiri oleh perwakilan Polda Jawa Barat dan Kejaksaan Negeri Bandung, dengan tersangka berinisial SS dan JS. Pada Kamis (17/05/2018) sekitar pukul 10.00 WIB, dalam rekonstruksi di Polres Bandung terdapat beberapa adegan yang diperagakan ulang oleh tersangka SS dan JS.

Menurut Andar Sidabalok, SH, MH, ketika diwawancarai oleh wartaekspres.com terkait pendampingan dari kuasa hukum tersangka dalam rekonstruksi proses pembuatan minuman kasus pengoplosan miras mengatakan, bahwa dilihat proses rekonstruksi menurutnya sangat aman untuk dikonsumsi, sebab produk minuman tersebut diolah dari air mineral, alkohol, dicampur minuman yang dipasarkan dalam bentuk sachet mengandung Gingseng, perasa dan pewarna makanan, pada Kamis (17/05/2018) di Graha A & S Kantor Andar Sidabalok, Jl. Sunan Sedayu No. 18, Jakarta Timur.

Lanjut Andar Sidabalok, menceritakan rekaulang proses produksinya berawal dari bagaimana menyiapkan wadahnya, air mineral satu kardus dituang semua, kemudian diracik dengan minuman yang dipasarkan dalam bentuk sachet mengandung Gingseng, perasa dan zat pewarna makanan.

“Setelah itu dilakukan test kadar alkohol, setelah ditest aman komposisinya, proses terakhir adalah proses packing kemudian didistribusikan ke wilayah Cicalengka, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, dijual dengan harga Rp. 20.000 per botol,” ujar Andar Sidabalok.

Andar Sidabalok, SH, MH.

“Yang menjadi persoalan, kemungkinan besar atau diduga pembeli melakukan pengoplosan kembali, menggunakan bahan yang tanpa adanya komposisi atas oplosan tersebut, dengan dugaan sementara mengunakan krim obat nyamuk dan obat-obatan lain, yang bisa mengakibatkan kematian,” tegas Andar Sidabalok.

Menurut kuasa hukum, bahwa dalam rekonstruksi, tersangka diduga atas dugaan dan sangkaan atas Pasal 204 ayat 1 dan 2 KUH Pidana atau Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2012, Pasal 140, 141, 142 Tentang Pangan.

“Kami sebagai kuasa hukum dari tersangka, untuk kepentingan kepastian hukum yang disangkakan kepada tersangka akan membela secara maksimal di persidangan nanti,” tutup Andar.

Seperti diketehui, berdasarkan riset yang dilakukan Kriminologi.id, ditemukan, bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan provinsi dengan korban tewas gara-gara miras oplosan terbanyak di Indonesia selama 2017-2018.

Terdapat 55 orang korban tewas akibat miras oplosan di Jawa Barat, angka ini menempatkan Jawa Barat pada posisi teratas dengan korban tewas paling banyak. Posisi kedua adalah Provinsi Jawa Tengah dengan 22 orang korban tewas akibat miras oplosan.

Sementara posisi ketiga adalah Provinsi DKI Jakarta dengan korban tewas berjumlah 13 orang dan kemudian pada posisi keempat adalah Provinsi Jawa Timur dengan korban tewas berjumlah 12 orang.

Selanjutnya pada posisi kelima ada tiga provinsi yang mendudukinya dengan jumlah korban tewas yang sama yaitu 3 orang, provinsi tersebut adalah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, dan Banten. (JRB)

banner-we_728x90.jpg