Polisi Ringkus Pelaku Persetubuhan Terhadap Anak Di Lokasi Pemandian Umum

64

NIAS SELATAN – wartaekpres.com – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Nias Selatan, berhasil meringkus seorang pria yang diduga menjadi pelaku persetubuhan seorang anak di bawah umur. Pelaku bahkan melancarkan aksinya di sebuah tempat pemandian umum di Desa Silima Banua, Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan.

Menurut Kapolres Nias Selatan, AKBP Faisal F. Napitupulu, S.IK, MH, melalui Kasatreskrim Polres Nias Selatan AKP Antony Tarigan, bahwa 7 orang anggotanya yang dipimpin oleh Ipda Demonstras, SH, berhasil meringkus pelaku di dalam rumahnya. Dimana selama beberapa kali sebelumnya pelaku diduga melarikan diri dari jendela di saat didatangi petugas.

“Pelaku bernama Sokhinihaogo Teambanua (59) yang merupakan warga Desa Silima Banua, Kecamatan Somambawa, Kabupaten Nias Selatan, diduga kuat telah menyetubuhi korban berinisial MG sebanyak satu kali, korban masih berumur 13 tahun, masih duduk di bangku sekolah, dan tinggal bersama orang tuanya di Desa Silima Banua, Kecamatan Somambawa.

Korban disetubuhi di sebuah tempat pemandian umum Desa Silima Banua tepat pada pukul 11.00. Wib, saat itu pelaku melakukannya secara paksa kepada korban. Di saat situasi sedang sunyi, maka dengan leluasa nafsu bejat pelaku dilampiaskan kepada korban berinisial MG di tempat tersebut,” ujar Antony.

Dia memaparkan, bahwa saat itu korban secara paksa diminta untuk melayani nafsu bejat pelaku, dan setelah selesai pelaku memberikan uang sebesar Rp.100.000 kepada korban.

Berselang dua hari, korban menunjukkan kelainan yang tidak biasa, di mana korban dilihat orang tuanya mengalami sakit dan terbaring di tempat tidur, seolah menjadi pendiam, trauma dan menyimpan ketakutan yang mendalam.

Di saat itu juga, akhirnya korban mengakui semua kejadian yang telah menimpa dirinya, setelah dibujuk dan disemangati oleh orang tua korban. Mendengar pengakuan dari korban, maka orang tuanya langsung melaporkan kejadian tersebut ke Mapolres Nias Selatan untuk meminta keadilan.

Pelaku diduga kuat telah melanggar Pasal 81 ayat 1 dan 2 yo Pasal 82 ayat 1 dan 2, Undang-Undang RI No. 17 Tahun 2016, tentang perubahan atas UU RI No, 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, khususnya mengenai tindak pidana kekerasan terhadap anak. “Hasil pemeriksaan dokter ditemukan adanya kelainan pada alat kelamin korban,” tegas Antony.

Usai penangkapan, pihak Satreskrim Polres Nias Selatan memeriksa tersangka, merujuk korban ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan melengkapi pemberkasan.

Dalam UU Perlindungan Anak No. 35 Tahun 2014, Pasal 81 mengatur, bahwa tiap orang dilarang melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, melakukan serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul.

Sementara Pasal 82 UU Perlindungan Anak ayat (1) menyebut, bahwa tiap orang yang melanggar ketentuan pada Pasal 76 E akan dipidana penjara paling singkat lima tahun dan paling lama 15 tahun, serta denda maksimal Rp. 5 miliar.

Dilanjutkan pada ayat (2), apabila kejahatan pencabulan terhadap anak dilakukan oleh orangtua, wali, pengasuh anak, pendidik, atau tenaga kependidikan, maka pidananya ditambah sepertiga dari ancaman pidana yang berlaku umum.

Kini Sokhinihaogo, harus mempertanggung jawabkan perbuatannya di muka pengadilan. Pelaku dijerat dengan ancaman hukuman berada di penjara ratapi nasib, dan menebus dosa atas perbuatannya. (Aperius Gulo)

banner-we_728x90.jpg