Pangdam IV/Dip : Waspadai Setiap Hakekat Ancaman Bangsa Indonesia

21

BATANG – wartaekspres.com – Demikian Pangdam IV/Dip Mayjen TNI Wuryanto, S.Sos, M.Si. dalam penyampaiannya pada Silaturahmi Kebangsaan bertemakan “Membangun dan meneguhkan hubungan dan sinergi TNI-Pesantren untuk Indonesia,” Sabtu (2/12) di Pondok Pesantren Modern Tazakka, Desa Sedayu Kec. Bandar, Kab. Batang.

Dikatakan Pangdam IV/Dip bahwa hakekat ancaman yang terjadi pada bangsa Indonesia, sebetulnya sudah kita rasakan, namun belum semua masyarakat bangsa Indonesia belum menyadari hal ini.

“Kita saat ini berada pada kompetisi global, karena semua berkepentingan memperebutkan Indonesia yang kaya akan sumber daya alamnya. Mereka gunakan segala cara untuk menguasai segala aspek kehidupan bangsa Indonesia, masyarakatlah yang menjadi sasaran untuk kepentingannya dengan melemahkan, memecahbelah dan membenturkan sendi-sendi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara,” ungkapnya.

Karenanya, lanjutnya. Hakekat ancaman yang mungkin timbul dalam kompetisi global tersebut, perlu dan penting bagi kita semua segenap komponen bangsa dan elemen masyarakat untuk mewaspadainya. Sebab itu, guna menangkal hakekat ancaman terhadap bangsa dan negara, harus ada yang mengingatkan. Tugas ini tidak hanya dilakukan TNI/Polri saja, namun seluruh komponen bangsa dan elemen masyarakat harus dapat saling mengingatkan akan hal ini. Agar bangsa Indonesia tetap utuh dan menjadi bangsa pemenang.

“Apabila TNI, Polri dan segenap komponen dapat bersatu, merupakan satu kekuatan yang luar biasa untuk menangkal setiap hakekat ancaman terhadap bangsa Indonesia,” terangnya.

“Dengan bersatunya kita semua, maka kita tidak mudah untuk dipecah belah. Bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang memiliki keberagaman dengan Bhinneka Tunggal Ikanya. Walaupun beranekaragam, bangsa Indonesia mempunyai perekat bangsa dan pemersatu bangsa yakni Pancasila, sehingga tidak mudah bagi bangsa lain untuk menguasai Indonesia,” jelasnya.

Pada kesempatan yang sama, dalam tausiyah kebangsaannya, Pangdam IV/Dip mengajak kepada para santri untuk turut serta bergabung menjadi anggota TNI dan Polri.

Dikatakannya, kedua institusi tersebut baik TNI maupun Polri, sesuai perkembangan zaman sangat membutuhkan prajurit dan bhayangkara yang santri. “TNI dan Polri sangat membutuhkan santri untuk menjadi prajurit TNI maupun anggota Polri baik Tamtama, Bintara, Perwira,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Bupati Batang, Suyono menyampaikan TNI dan Polri tidak sendirian dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Dikatakannya bahwa, dalam menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI, TNI dan Polri merupakan komponen utama, namun masih ada komponen lain yang dapat membantu dalam menjaga NKRI yakni yakni komponen cadangan yang di dalamnya rakyat.

“Bela negara tidak harus dengan mengangkat senjata. Bela negara dapat dengan cara lain, yakni dengan membangun manusia Indonesia seutuhnya yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Walaupun bangsa ini beragam namun tetap satu yakni Indonesia. Karenanya, Pancasila sebagai idiologi bangsa Indonesia harus kita junjung tinggi nilai-nilai luhur dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Dengan menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, kita tidak akan tergoyahkan, tidak terlemahkan dan tidak terpecah belah oleh idiologi lain,” ungkapnya.

KH. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, dalam tausyiahnya menyampaikan agar bangsa Indonesia tidak melupakan sejarah bangsa Indonesia.

Dikatakan, fenomena saat ini pengetahuan sejarah bangsa sudah semakin tiois. Karenanya, jika tudak segera ditangani maka sejarah bangsa sendiri akan hilang bahkan punah.

“Jangan sampai bangsa Indonesia kepaten obor, bila hilang cahaya bangsa ini maka akan hilang arahnya,” jelasnya.

Sejarah bangsa merupakan fundamental sebuah bangsa. Rakyat Indonesia bila mengenal Indonesia secara mendalam akan bangga yang sekaligus muncul keprihatinan yang mendalam. Sebab Indonesia kaya akan sumber daya alamnya, namun kekayaan tersebut belum sepenuhnya dikelola bangsa sendiri dengan  baik.

Seharusnya, kita menguasai berbagai sektor seperti pendidikan, ekonomi, kesehatan dan lainnya.  Maka kita tidak tergantung bangsa lain, dan sebaliknya bangsa lainlah yang harus bergantung dengan kita bangsa Indonesia.

Pimpinan dan Pengasuh Pondok Pesantren Modern Tazakka KH. Anang Rizkha Masyhadi, Lc, MA dalam sambutannya menyampaikan apresiasinya terselenggaranya kegiatan Silaturahmi Kebangsaan. Dikatakan, hubungan TNI dan Pesantren bukan barang baru. “Apabila kita melihat sejarah bangsa Indonesia, hubungan TNI dan pesantren/ulama sejak dulu bersatu,” ujarnya.

“Kita ingin ditengah suasana hiruk pikuknya kebangsaan, hubungan TNI dan pesantren harus kembali pada kitahnya. Hubungan yang sama-sama mempunyai komitmen untuk Indonesia,” terangnya.

Tausyiah Kebangsaan dihadiri Pangdam IV/Dip Mayjen TNI Wuryanto, S.Sos, M.Si, Danrem 071/Wk Kolonel Inf Suhardi, para Askasdam IV/Dip, para Dan/Ka Balak Dam IV/Dip, para Dandim sejajaran Korem 071/Wk, Wakil Bupati Batang beserta Forkopimda Batang, KH. Habib Luthfi bin Ali bin Yahya, Pimpinan Ponpes Tazakka beserta segenap pengasuh dan para santri. tokoh agama, tokoh masyarakat Batang, ormas pemuda Batang (FKPPI, KOKAM, GMBI, Pagar Nusa, dll), warga masyarakat Desa Sedayu, Kec. Bandar, Kab. Batang,

Usai Silaturahmi Kebangsaan, dilaksanakannya serah terima Akta Wakaf Tanah Yayasan Tazakka kepada TNI AD untuk kantor Koramil Bandar Kodim 0736/Btg. (A. Didi P/Kontr)

banner-we_728x90.jpg