Merah Putih Di Bulu’ Sarigang

65

GOWA – wartaekspres.com – Pernah mendengar Bulu’ Sarigang??? Bagi kalangan pecinta alam namanya memang belum dikenal luas, seperti Gunung Bawakaraeng, Gunung Lompobattang atau pun Bohonglangi di Kabupaten Gowa. Padahal gunung yang berketinggian 1.773 Mdpl ini tak kalah menariknya dengan gunung-gunung lainnya. Gunung ini diapit oleh Gunung Balung Loe dan Bulu’ Sorongang yang sama-sama menarik dan layak didaki di pendakian berikutnya, cobalah.

Baru-baru ini, 26/27 Agustus 2017 saya berhasil menapaki puncaknya kali pertama, berdiri tegak dan memandang hasil karya Sang Maha Pencipta di ketinggian 1.773 Mdpl. Bersama 18 orang lainnya, 2 dari Yayasan Hadji Kalla serta 16 orang lainnya dari Organisasi Pemuda (Asgar) atau Asli Garassi Gantarang). Gunung ini terletak di Desa Garassi, Kecamatan Tinggi Moncong, Kabupaten Gowa.

Hari ini saya anggap bukan mendaki biasa. Kenapa? karena selain agenda camping, kami juga menginisiasi pemuda untuk mencintai lingkungan dalam suatu kegiatan “Green Camp Day” yaitu pembersihan lingkungan daerah pegunungan. Selain itu, agenda kali ini masih bagian dari perayaan Proklamasi Kemerdekaan RI yang ke 72. Untuk itu kami tetap mengabadikan pengibaran bendera merah putih di ketinggian 1.773 mdpl tersebut.

Saya tak pernah membayangkan bisa berada di tempat ini, bersilaturahmi dengan sahabat-sahabat pemuda Kelurahan Garassi. Meskipun rasa lelah dan penat yang mendera sebelumnya, apalagi jalurnya sangat menanjak  juga terjal. Tapi, semua seolah terbayar begitu sampai di puncaknya yang menawan.

”Trima kasih kawan, engkau telah memperkenalkan tempat yang luar biasa keren, pengalaman hari ini akan menjadi catatan terindah dalam memori kehidupanku”.

Sepanjang jalur, pemandangan indah tersaji, kadang kami melewati sungai, memasuki kawasan pinus yang meneduhkan.Seperti halnya mendaki pada umumnya tentunya ada tanjakan dan turunan.Namun, disini terdapat suatu view tertentu, dimana kawan-kawan sering menyebutnya “Tanjakan Manja dan Turunan Romantis”.

Setelah saya telusuri, ternyata tanjakan dan turunannya memang sedikit ekstrim sehingga saat melewatinya harus berpegangan tangan. Hahaha ternyata filosofinya dari situ. Selain itu, untuk pertama kalinya saya mencoba makan “daun aneh”.

Ya…namanya Daun Kaccipoda yang hanya bisa tumbuh di dataran tinggi. Konon katanya, daun ini dipercaya bisa menghilangkan dahaga, sehingga cocok dimakan sebagai cemilan para pendaki. Awalnya terasa aneh juga, namun setelah menikmati sedikit demi sedikit akhirnya ketagihan juga.

Begitu saya sampai di puncak, terasa dunia ini begitu indah, Tuhan telah menciptakan alam semesta ini dengan sangat cantik dan menakjubkan. Apalagi saat menyaksikan ”sunset” secara langsung diwaktu sore dan ”sunrise” saat pagi hari.

Fabiayyialairobbikumatukazziban” – Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagikah yang engkau dustakan?.

Ada rasa syukur tiba-tiba menggelitik kalbu berada di sini.Terlebih lagi saat menghadapkan diri dan bermunajat kepada-Nya, saat melantunkan suara adzan, dan berjamaah melaksanakan ibadah sholat 5 waktu. Ada sesuatu yang berbeda kurasakan.

Di sini seakan saya lebih dekat dengan Tuhan. Tak kuasa rasanya membendung air mata ini saat memanjatkan doa kepadanya. Tak henti-hentinya saya berterima kasih kepada-Nya telah dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti mereka. Indahnya pertemuan, persahabatan, kekeluargaan bercampur menjadi satu yang di bingkai dalam ukhuwah.

Jika sahabat-sahabat alam ingin mendaki gunung ini, sebaiknya didampingi leader dari Kampung Garassi, karena hanya mereka yang tau secara detail lokasi ini dengan baik, di samping jalur ke puncak belum ada tanda atau pos.

Ayo, segera ke Bulu’ Sarigang, kemas dan packing barangmu.Temukan sensasi petualangan beda!!! (Andri Setiawan/Kontr)

banner-we_728x90.jpg