Majelis Pers : Keranda Mayat Simbol Matinya Kemerdekaan Pers Indonesia

27

JAKARTA – wartaekspres.com – Aksi para jurnalis yang digelar hari Rabu (4/7) diakomodir oleh sejumlah organisasi pers nasional sebagai bentuk perlawanan para jurnalis terhadap tirani kekuasaan Dewan Pers. Refleksi dan reaksitas insan pers terhadap kebijakan-kebijakan Dewan Pers yang dinilai tidak berpihak pada jurnalis, diskriminatif, bahkan telah mengkriminalisasi hampir di setiap daerah.

Penolakan tersebut berawal dari kebijakan dan sikap Dewan Pers yang selama ini dirasakan telah membunuh karakter pers dan membunuh kemerdekaan pers, memicu kemarahan dan memuncaknya hak tolak atas kinerja Dewan Pers yang tidak sesuai dengan tujuan awal sebagai amanah reformasi dan demokrasi untuk mengembalikan citra martabat harga diri bangsa kepada Pers Pancasila.

Aksi serentak yang dilakukan di berbagai wilayah di Indonesia, dengan central DKI Jakarta sebagai pusat pemerintahan menjadi titik vital.

Dalam orasinya di depan Gedung Dewan Pers, para organisasi pers dan jurnalis mendorong Majelis Pers untuk mengambil sikap dan langkah tegas dalam melakukan evaluasi kinerja Dewan Pers selama ini.

Sekjen Majelis Pers sekaligus Ketua Umum KWRI, Ozzy Sulaiman Sudiro mengatakan di hadapan ratusan awak media di pelataran Gedung Dewan Pers Jakarta, bahwa kemerdekaan pers yang sudah kita perjuangkan bersama pejuang pers reformis (Majelis Pers) diduga telah dibajak oleh sekelompok pesanan sponsor penguasa dan pengusaha pers, seolah-olah kemerdekaan pers ini hanya diraih dan diperjuangkan oleh segelintir organisasi pers, itu adalah kebohongan publik dan penghianatan nurani.

Dikatakan Ozzy, bahwa kemerdekaan pers yang sudah kita perjuangkan adalah hasil perjuangan 27 organisasi kewartawanan sejarah telah mencatat itu, Majelis Pers yang turut membidani kelahirannya Dewan Pers merasa prihatin dan duka yang mendalam kapada para jurnalis yang saat ini berada dalam hotel prodeo, hingga kematian seperti yang dialami M. Yusuf.

Menurut Ozzy, sebuah berita mengacu UU No.40 Tahun 1999 tentang Pers, bahwa sebuah karya jurnalistik tidak menganut kriminalisasi, karena wartawan di dalam melaksanakan fungsi dan tugas jurnalistiknya secara konstitusi dilindungi Undang-Undang No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Sementara lahir Undang-Undang ITE No. 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang No11 Tahun 2008 terkait informasi transaksi elektronik, keberadaannya diberlakukan semata-mata untuk sosial media, dalam hal ini, Twitter, Facebook, Instagram dan seterusnya, bukan terhadap jurnalis. Terutama Pasal 45 A, dengan ancaman 6 tahun penjara dan denda 1 miliar rupiah, itu artinya sama saja kiamat sugro bagi wartawan. Hal ini menjadi catatan buram bagi kinerja pengurus Dewan Pers sepanjang sejarah kemerdakaan pers dan telah mencederai kemerdekaan pers.

“Kami memberikan apresiasi dan tentu menempatkan penghargaan setinggi-tingginya kepada para pejuang pers, kepada teman-teman peserta aksi, baik di Jakarta maupun di berbagai daerah, bahwa moment ini menjadi langkah maju merebut kembalinya kemerdekaan pers,” ujar Ozzy.

“Karena kita adalah seorang pejuang dan bukan orang-orang yang diperjuangkan, dan kami meminta kepada pengurus Dewan Pers untuk mengevaluasi dan menijau kembali kebijakan-kebijakannya, bila perlu mencabut hal-hal yang berpotensi terhadap pembunuhan karakter pers dan membunuh kemerdekaan Pers. Kami juga meminta dengan segala hormat kepada yang mulia Bapak H. Ir. Joko Widodo, untuk menyikapi dengan seksama, karena hal ini dapat merusak tatanan wajah demokrasi kita, karena hitam putih republik ini dapat tercermin melalui pers,” harapnya.

Upaya-upaya pembodohan terhadap pers nasional akan segera berakhir, dan pihaknya akan segera membentuk tim khusus untuk melakukan konsolidasi, diskusi kapada Ketua DPR RI, Menkominfo dan para pakar hukum di bidangnya, agar segera melakukan juridical review terhadap UU Pers Nomor 40 Tahun 1999 tentang pers, serta mereview MoU yang dilakukan Dewan Pers dengan Polri dan TNI.

“Dalam aksi ini kami mempersembahkan Keranda Mayat kepada Dewan Pers, sebagai simbol matinya kemerdekaan pers Indonesia,” tutup Ozzy. (Bs/Red)

banner-we_728x90.jpg