Ketua DPC Hanura Raja Ampat Kutuk Aksi Terorisme

27

SORONG – wartaekspres.com – Kejadian pemboman 3 gedung gereja, 1 rusunawa dan Mapoltabes Surabaya serta yang baru saja terjadi di Polda Riau yang dilakukan oleh orang-orang pengecut dan biadab (teroris) yang tidak mengenal perikemanusian, dikutuk keras oleh seluruh anak bangsa, salah satunya adalah Ketua DPC Hanura Raja Ampat yang juga selaku anggota DPRD Kabupaten Raja Ampat, Charles Imbir, ST, M.Si.

Dikatakan Charles, bahwa tindakan yang dilakukan oleh manusia biadab ini tidak bisa ditolelir, karena sudah tidak berperikemanusiaan, sehingga mereka ini dan seluruh kaki tangannya kalau ditangkap dalam kondisi hidup segera dibantai juga seperti di beberapa tempat yang telah mereka lakukan aksi.

“Tindakan kebiadaban harus diselesaikan dengan kebiadaban juga, biar mereka juga tahu. bahwa masyarakat Indonesia tidak takut dengan mereka yang melakukan aksi teror dengan mengatasnamakan agama tertentu, padahal umat dari agama yang mereka atasnamakan tidak tahu menahu dengan aksi mereka,” tegas Charles.

Oleh karena itu, kata Charles, pemerintah harus lebih memfokuskan aparat keamanan TNI/Polri di Pulau Jawa bukan harus didatangkan dan membentuk batalyon Pasukan Marinir (Pasmar) di Kota Sorong, karena kondisi keamanan di Papua tetap aman dan kemungkinan aksi teror di Papua sangat kecil.

Tetapi, lanjut Charles, aksi teroris yang dilakukan sudah terlihat jelas, bahwa ini tindakan yang menjurus kepada disintegrasi bangsa yang selama ini pemerintah takut terjadi di Papua, namun hingga saat ini Papua masih di bawah naungan Negara Kesatuan Republiki Indonesia (NKRI).

“Armada Timur pusatnya pasukan Marinir di Surabaya faktanya bom terjadi di Surabaya, jadi sebaiknya militer kembali jaga Jawa saja, karena potensi ancaman bom itu di Pulau Jawa bukan di Papua dan bahan baku pembuatan bom justru tersedia di Jawa. Perusahaan hingga bengkel juga dapat merakit bom,” terang Charles.

Dan juga, kata Charles, jumlah manusia yang besar berpotensi untuk melakukan penyusupan dan penyamaran, sehingga konsentrasi militer dan polisi sebaiknya ke Jawa dan daerah rawan isu sara yang memudahkan potensi disintegrasi bangsa. Papua tidak terlalu berbahaya untuk ancaman teroris, karena Papua hanya bicara merdeka dan aksi yang dilakukan terbuka tidak menggunakan bom atau teror.

Menurut Charles, Indonesia lebih mudah pecah dengan ancaman teror yang berbau sara dan provokasi untuk membuat konflik horisontal antar rakyat sendiri.

“Aksi teror bom yang terjadi di Surabaya dan beberapa tempat di Indonesia wajib kita kutuk keras perbuatan biadab itu, dan marilah kita berdoa semoga korban bom arwahnya dapat diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa, serta keluarga korban yang ditinggalakn selalu diberikan kekuatan dan keikhlasan serta ketabahan dalam mengahdapi masalah ini,” ungkap Charles. (Son)

banner-we_728x90.jpg