Atlet Berkualitas Nasional Tidak Diturunkan Di SEATTA Mengakibatkan Indonesia Peringkat Terburuk Di Asia Tenggara

243

Oleh : Nurseno SP Utomo

JAKARTA – wartaekspres.com – Bulan Februari 2018 PB PTMSI mendapat undangan kehormatan dari Presiden Table Tenis Philipina Ting. C. Ledesma untuk mengikuti Turnamen SEATTA Program ITTF di Naga City Philipina. Sebagai Presiden Event Organisator di turnamen tersebut, Ting Siap memfasilitasi Atlit PB PTMSI untuk dapat mengikuti Turnamen SEATTA.

Atas undangan tersebut, PB PTMSI segera mengadakan seleksi Nasional dengan mengirim surat edaran ke setiap pengprop di setiap wilayah untuk dapat mengirimkan atlet-atlet terbaiknya untuk mengikuti seleknas yang diadakan di Mall Bay Walk Ping Pong center selama tiga hari.

Dari hasil seleknas yang sangat adil dan ketat, terjaringlah atlet-atlet kadet dan junior peringkat terbaik ke satu yang terpilih untuk diberangkatkan dan atlet peringkat ke dua yg dijadikan lawan main di Trening Center selanjutnya. Di saat PB PTMSI yang diketuai saat ini oleh Dato Dr. Tahir, MBA, sedang mengadakan TC, pihak Pengurus Pusat (PP) PTMSI pimpinanan Oegroseno mendadak mengadakan seleknas juga (Entah apa maksud dan tujuannya..!? ) di PTM Sukun Kudus yang diikuti oleh atlet-atlet sisa dari penjaringan seleknas PB PTMSI untuk diikut sertakan juga di Turnamen SEATTA. Atas hal ini, maka terbentuklah 2 Tim Nasional yang akan mewakili Indonesia di Turnamen SEATTA. Apa Yg terjadi..?

PTMSI di bawah naungan Dr. Tahir dan PP PTMSI pimpinan Oegroseno sama-sama berangkat ke Philipina. PB PTMSI berangkat ke SEATTA dengan segalanya biaya sendiri berdasarkan undangan kehormatan dari Mr. Ting. C. Ledesma, PP PTMSI berangkat memaksakan diri dengan keadaan kwalitas atlitnya ke SEATTA , berdasarkan pada pemilik Pin ITTF atas rekomendasi dari Komite Olimpiade Internasional KOI yang berhak bermain di Turnamen SEATTA.

Setelah terjadi upaya-upaya maksimal dari Pihak PB PTMSI yg saya pimpin untuk bisa main di Turnamen SEATTA melobby ke berbagai pihak terkait, dimana saya di sini selaku official dari pihak PB PTMSI, maka keputusan tetap berpihak ke PP PTMSI pimpinan Oegroseno yang dapat bermain..!! Tanpa memandang apapun menyangkut kwalitas atlit walau itu demi dan untuk mewakili NKRI.

PB PTMSI pimpinanan Dr. Tahir memberangkatkan Tim SEATTA yang terdiri dari Ketua Tim Official: Nurseno SP Utomo, Manajer : Bambang KS, Wk.Manajer: Mansyur Lakoro, Pelatih: Ruddolof, Pattiasina, Bobby Regar, Erwin Embeng, Elyas Mustadin, Pendamping: Untung

Sementara Atlet Junior Putra; Egar Prasetyo, Fernando Melkyanus Palar, Benjamin Mulia Pratikno, M Rizal Zulmi. Sedangkan untuk Putri; Hani Tri Azhari, Desi Ramadanti, Alda Rahayu Candra, dan Putri Nursyahbani.

Atlet Kadet Putra; M Ashfal Ashfian, Andre Kristian Gunaya, Hamada Citra Cendikiawan, untuk Putri; Almaira Nebuchadnezzar, Novida Wida Rahman, dan Halimah Hidayatus Sholika.

Pihak kami dari PB PTMSI yang dipimpin saya sendiri akhirnya berupaya keras dan maksimal menawarkan semua atlit terbaik Indonesia hasil seleksi dan TC selama sebulan penuh kepada PP PTMSI demi dan untuk nama baik Indonesia di mata internasional, tentunya hal inipun seizin semua pimpinan PB PTMSI.

Diwakili oleh Sugeng Utomo dari pihak PP PTMSI, akhirnya kita berunding untuk hal itu dan  Sugeng menyambut baik dan siap berupaya untuk meracik pemain atlet PB PTMSI dan PP PTMSI demi Bangsa dan Nagara, atas hal itupula kami sama-sama mewakili tim Indonesia berada di ruangan teknical meeting, tapi hasil akhir tetap PP PTMSI tidak dapat mengakomodir satupun atlet terbaik dari PB PTMSI.

Dan terbuktilah, Indonesia yang diwakilli PP PTMSI dengan pemain seadanya itu, hanya mendapatkan 1 medali perak dan perunggu saja, untuk dan atas nama bangsa dan negara yang besar ini. Sedangkan target kita PB PTMSI bila bermain di sana dan saya pimpin, minimal sanggup meraih 5 emas atau juara umum, karena walau tidak main, kita sampai akhir turnamen tetap memantau, melihat dan mengikuti kwalitas pemain-pemain dari negara masing-masing yang ada di sana dan kita memungkinkan mendapatkan target itu.

Dengan dualisme kepengurusan seperti ini, tentunya atlit-atlit terbaik yang telah jadi korban selama ini dan juga berkabungnya Cabor PTMSI untuk membawa prestasi luar negeri di negeri ini hanya menunggu waktu saja menuju kematian.

Kami sebagai pecinta dan pengurus Cabor prestasi Tenis Meja Indonesia, berharap Presiden RI turun tangan untuk memangkas ranting benalu di pohon PB PTMSI yan selama ini telah dan sedang menjadi penyakit bagi perkembangan, kemajuan dan kenyamanan untuk kami selaku pengemban amanah mengangkat dan mengharumkan martabat bangsa dan negara di dunia internasional melalui olah raga prestasi ini.

PB PTMSI memang dari dulu sudah ada dan sah mewakili Kepengurusan Cabor Tenis Meja di Negara Kesatuan Republik Indonesia ini, dibanding PP PTMSI yang terlahir beberapa tahun belakangan yang kejadian tumbuh ada dan terbentuk sebagai ranting di pohon PB PTMSI, yang kejadiannya terlahir melalui kesepakatan sebagian beberapa pengprop di PB PTMSI yan tidak diakomodir kejadiannya oleh KONI Pusat  selaku lembaga induk yang sah merekomendasi seluruh kagiatan-kagiatan keolahragaan sesuai kopetensi dan kapasitas masing-masing. (Penulis adalah Ketua Team Official Turnamen SEATTA Naga City Philipina 2018, mewakili  PB PTMSI).

banner-we_728x90.jpg